Galaba Si Kenes Pohon Beringin






Galaba Si Kenes Pohon Beringin

—sal, Mataram.


                     




Ombak pantai dan anila yang dingin menghantarkan suasana sang fajar untuk memperkenalkan cahayanya di sebelah timur pada garis cakrawala. Dan kecepatan lambat memungkinkan kita menangkap dengan detail jalanan, trotoar, mobil dan motor yang mengulur waktu, kicauan burung dan suasana sepi menemani sang pagi dini hari.

 

Glek! Nalan menelan ludah. Melihat jam dengan harap-harap cemas. Angka yang tertulis di arlojinya, tulisannya 05.30. Nalan melihat arah kanan jalan, mobil dan motor yang melintas cepat di  jalan besar itu ke arahnya. Pesawat tujuan Lombok-Semarang akan segera tiba. Selama perjalanan di mobil ia terus bertanya-tanya sambil mengunyah roti berisi selai kacangnya tentang apa yang dilakukan orang setempat pada makam yang ia lihat sepintas tadi disana, mengapa banyak orang yang berbondong-bondong untuk datang, tak heran selama balik ke kota nya dari Semarang selalu melewati jalan Lingkar Selatan.

 

***

Setelah beberapa bulan di Semarang dan memutuskan untuk balik ke Kota kelahirannya Mataram. Nalan menjalani pendidikan dengan menempuh satu tahun 22 SKS pada semester empatnya dengan baik. Terbiasa dengan rutinitas di asrama, Nalan memutuskan untuk berolahraga dengan rutin berlari di pagi atau sore hari. Melintasi jalanan kemarin yang Ia ingat satu tahun berlalu sebelum ia berangkat ke Semarang, tempat itu sering berdatangan orang-orang banyak yang rupanya tempat tinggal mereka yang tidak dekat dari lokasi. Rasa penasaran Nalan memang mengajak seolah-olah ia harus masuk dan tahu apa yang terjadi disana. Memang bukan tempat spesial tetapi rasa penasaran itu muncul bersamaan, Nalan pribadi sangat menyukai apapun cerita yang kakeknya katakan, bahkan sebelum Kakek atau yang sering ia panggil Atok itu meninggal, satu pesan yang Ia sampaikan pada Nalan untuk menjadi perwira yang baik untuk Negeri. Apa yang dikatakan kakeknya sewaktu kecil selalu menjadi motivasi dan semangat hidupnya sampai sekarang pun ia tetap dikenal cucuk kesayangan Atoknya dengan pangkat Brigdatar atau yang sering disebut Brigadir Dua Taruna.

 

 —

 

Cerita makam itu juga salah satunya yang membuat jiwanya penasaran, tentang makam yang di tempati para Syeikh. Salah satunya Syeikh Gaos Abdurrazak, yang konon merupakan Ulama besar. Dia berasal dari Timur Tengah. Di kalangan masyarakat Lombok kala itu, ia akrab disapa Sayyid Tohri.

 

“Konon, beliau datang ke Lombok untuk menyampaikan ajaran Islam,” ungkap kakek 10 tahun silam

Tak hanya itu, Sayyid Tohri juga dikenal sebagai sosok yang keramat. Doa-doanya manjur. Dan tentu sangat dihormati. Mengingat akan hal itu tanpa langsung berpikir panjang, masuklah Ia pada tempat yang di sucikan menurut orang-orang disana itu, matanya langsung tertuju pada pohon besar disertai akar-akarnya yang teruari banyak. Sambil terus memandangi satu-persatu bangunan yang menjadi makam itu, dilihatnya sosok pria berusia 60 tahunan sedang berbaring sambil mendengar lantunan ayat suci agama islam. Sambil langsung terbangun karena merasa sadar pria yang sering disebut Papuq itu langsung duduk, dan kebetulan juga belum ada orang-orang yang berdatangan ke makam. Nalam langsung menjabat tangan Papuq itu dan mengirim sapaan pertama kalinya untuk bisa berada disana. Diceritakan kisah-kisah dari para Syeikh yang bisa sampai berada di Lombok dan bagaimana menyebarkan agama islam.

Tak menunggu waktu berjam-jam Nalan berpamitan pada Papuq dan mengucap banyak-banyak terimakasih atas waktu yang telah diberikan untuk bisa mengenal lebih mengenai sejarah leluhur makam yang sering disebut makam Loang Baloq itu. Adzan dzuhur memangilnya seakan-akan untuk menyuruhnya selain melaksanakan kewajiban ibadah, untuk segera pulang.

“Leq jaman laeq araq sopoq cerite, Inaq Tegining Amaq Teganang arane. Pegaweane ngarat sampi leq tengaq rau. Sampin sai tekujang tekujing leq tengaq rau. Inaq Tegining Amaq Teganang epe ne…”  Kantana yang begitu indah terdegar bagi si pemuda 22 tahun itu, dilihatnya gadis berambut tebal terurai sebahu, flatshoes biru tua yang menghiasi betis nya yang cantik.

Suara itu berasal dari perempuan bersepatu biru tua itu sambil mengikat-ngikat akar pohon beringin yang menjadi tradisi tali bunut yang dikenal ziarah makam Loang Baloq. Sembari hanya melihat sepintas dan perlahan berjalan yang sebenarnya tidak ia ingin pergi dari tempat.  Pastinya akan terus terbayang perempuan itu walaupun diam tetapi hatinya banyak menyimpan pertanyaan ataukah rasa pada ketertarikan padanya, oh jelas tentu saja dipastikan iya.

Kenes. Panggilan sayang nya untuk perempuan di bawah pohon beringin itu, hanya menyimpan dalam diam dan berharap suatu saat bisa bertemu kembali. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Pangkat nya pun berubah menjadi Brigadir Taruna. Entah mengapa rasa nya pada Kenes terus ada walaupun banyak perempuan yang mencoba mendekat dan banyak diluar sana perempuan yang dikenal lebih dari si Kenes. Mencinta sosok dalam diam yang dipertemukan sebatas selintas terlihat dimata nya dan sekarang hilang. Hanya sesal yang ia dapatkan. Risiko nya, karena membiarkan dia sebagai laki-laki yang tidak ada keberanian pada cintanya.


***

Minggu pagi yang cerah. Setelah menyuci, membereskan baju, mengepel, menyapu, disiapkannya sarung tangan hijau tosca, sepatu capung putih, dan celana senam dust pink yang trend di tahun 90an, tak lupa baju putih polos dan ikatan bandana merah muda, yang tetap menghiasi dirinya yang selalu cantik. Perempuan itu bergegas menuju lokasi tempat yang dibarengi Buk RT sembari menanyakan kabarnya bagaimana dan keadaannya. Sampainya di lokasi, Buk RT menarik perempuan itu untuk menjadi pemandu senam pada pagi hari yang diikut sertakan oleh kalangan muda, ibuk-ibuk disana. Dengan terlihat malu-malu dan sembari memberanikan diri untuk menjadi instruktur senam, begitu saja namun perempuan itu dapat memberikan maupun menunjukan gerak yang terbaik. Dari arah berlawanan taman, seorang pria tinggi, postur tubuhnya yang tegap melihat dari kejauhan bersama beberapa pria berseragam coklat muda.

Kenes. Ucap dalam hatinya pemuda itu, setelah bertahun-tahun apakah ini semua yang terbayar. Rambutnya, postur tubuhnya dan alisnya benar-benar ia bisa rasakan sosok perempuan yang bernyanyi di pohon beringin itu menjadi belahan jiwanya. Tanpa berpikir panjang, segeralah ia hampiri gadis itu dan mendekatinya sambil menyodorkan sarung tangan hijau tosca itu yang jatuh dan sempat tertinggal. Dan dari situlah akhirnya calon perwira itu menemukan pujaan hatinya.

 

***

Semakin hari, semakin dalam dan bulan terus berganti, cinta Nalan semakin kuat dan Kenes terus bisa membuatnya jatuh cinta. sampai masuk bulan hujan di Desember, Nalan harus bertugas dan dipindahkan pada tempat baru yang jauh dan memungkinkan sangat jarang bertemu Kenes. Tentunya sangat berat harus berjauhan dengan orang yang amat dicinta. Sampai akhirnya mereka berdua dipisahkan oleh keadaan, Kenes tak bisa ikut karena ia tidak mau harus meninggalkan kedua orangtuanya yang sudah semakin tua.

Di penghujung bulan bulan maret, hubungan mereka semakin hari semakin tidak jelas arahnya. Rasa sedih dan bimbang yang Kenes rasakan, laki-laki itu seperti hilang. Orangtuanya menjodohkan Kenes dengan laki-laki lain yang sudah mampu membiayai Kenes dan orangtua. Perempuan itu juga tidak di izinkan untuk bisa bersama dengan Nalan. Harinya terus seperti dihujani duka, ia terus mempertanyakan keberadaan laki-laki itu.

Mataram, Juli 1995..

Nalan datang ke Kotanya lagi, entah terasa berbeda, cuaca hari itu benar-benar mendung tetapi tidak hujan-hujan. Hal yang paling ia lakukan setelah bertemu kedua orangtuanya, ia ingin melihat gadis berambut tebal yang selalu menjadi dambaan hatinya. Akhirnya memutuskan untuk bertamu, setelah menunggu beberapa menit dipintu, dan Ia langsung saja melihat sepasang mata kacang almond indah itu menatapnya. 

Masih selalu dan akan tetap cantik. Gumamnya, namun perlahan wajah cantik  itu tertutup air mata mengalir di pipi kanannya. Pria itu kebingungan dan ikut merasa sedih ada apa dengan wanitanya.

“Saya sudah menikah.” Suara gemetar perempuan itu semakin menjadi isak yang terbendung di raut wajahnya.

Bug! Seperti tumpuan beton yang dikirim untuknya, pria itu menatap perempuan itu sekali lagi dan mengelus perlahan pundak gadis itu dengan halus. Mencoba tegar dan mengikhlaskan atas segala yang terjadi. Berat, sesak, ya. Itu yang ia rasakan. 

"Sejak kapan?" tanya Nalan dengan lembut. Kemudian dilihatnya gadis itu menunduk dan kembali mengarahkan tatapannya padanya dengan binaran air dari kedua bola matanya

"Baru-baru ini. Nalan... sepertinya Saya akan selalu merindu, kenapa kamu tidak memberiku kabar, kamu pergi tanpa kejelasan. Hampir ratusan hari Saya menunggu surat yang Saya sendiri tidak tahu kapan surat itu datang dari kamu. Setiap hari saya meyakinkan diri untuk kamu datang. Bagaiman dengan semua ini, kamu bohong.." Ucap Kenes dengan isak tangis yang tidak bisa Ia tahan ketika melihat laki-laki ber-postur 180 cm itu di hadapannya kesekian kalinya. 

"Saya benar-benar..." sambung Kenes dengan masih isakan tangis dan rengekan seperti anak kecil yang dipaksa tidur siang oleh Ibu nya.

Seketika suara tangis itu berhenti perlahan. Kenes berhenti menjawab ketika Nalan memegang pundaknya dengan semakin erat

“Maafkan Saya, maafkan Saya Kenes. Jauh dilubuk hati Saya yang terdalam wanita paling indah setelah Ibu adalah dia yang ada dihadapan ku ini. Tapi apalah daya, Saya harus melihat kamu bahagia juga pastinya. Berjanji lah tomat ku. Kamu akan bahagia, tolong terima kata-kata ini. Begitupun dengan Saya yang akan melanjutkan hidup. Terima kasih dan jaga diri baik-baik.” Sambil berbalik arah dan mencoba akan baik-baik saja dihadapan gadis itu, Nalan melangkah perlahan dan pergi meninggalkan gadis berambut tebal kesayangannya, Kenes.

 

 

 

 

 

 


Komentar

  1. Cerpen nya menarik min, ditunggu cerpen selanjutnya 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. mantapp Bet, ditunggu karya nya jga🥰🙌🏻

      Hapus
  2. Balasan
    1. terimakasih ya Ainul🥰 sukses selalu juga

      Hapus
  3. Balasan
    1. wouw thank you 🙌🏻🙌🏻🥰btw galaba yaw kmrn typo😆😁

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terbayar

Aksama