Peran Millenial dalam Mengatasi Isu Kejahatan Seksual dalam Ranah Pendidikan Guna Menyongsong Indonesia Emas 2045

 “Jika anda mendidik seorang pria, maka seorang pria akan terdidik. Tapi jika anda mendidik seorang wanita, sebuah generasi akan terdidik” Brigham Young.

Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan (KOMPAKS) sesalkan perubahan RUU Penghapusan kekerasan seksual dari Baleg DPD RI. “Sebagai masyarakat sipil kita perlu menguatkan kembali solidaritas kita pada korban kekerasan seksual dengan mendesak BALEG DPR RI untuk menyesuaikan materi RUU PKS dengan kebutuhan korban.” seru Naila, selaku perwakilan KOMPAKS, seperti dalam siaran pers yang diterima PARAPUAN.

Perjuangan menghadirkan keadilan bagi korban kekerasan seksual di Indonesia bukan perjuangan yang mudah.Tahun 2008 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sebanyak 54.425 kasus. Kemudian pada tahun 2019 menjadi meningkat dengan angka kasus sebanyak 431.471 kasus yang beredar dari setiap korban. Menurut salah satu lembaga nasional Hak Asasi Manusia yang berfokus pada penegakan hak asasi manusia perempuan Indonesia “Setiap dua jam setidaknya perempuan di Indonesia mengalami kekerasan seksual.” (Komnas Perempuan, 2020.)

Kasus ini merupakan momok bagi gender lainnya. Karena itu, kekerasan seksual dapat dilakukan oleh beragam orang tidak dikenal ataupun bisa orang terdekat korban sekalipun, lawan jenis atau sesama jenis. Seperti, guru, tetangga, teman sebaya, orang yang dekat dengan korban, salah satunya orang terdekat seperti keluarga. Pengaruh ini bisa mempengaruhi beberapa faktor, salah satunya kurangnya edukasi mengenai sex education yang masih dianggap tabu dalam kalangan masyarakat kebanyakan. Faktor sosial ekonomi dan lingkungan bisa menjadi alasan utama pengaruh dalam dampak kasus pelecehan yang beredar. Kurangnya wawasan, attitude yang kurang baik, informasi serta bagaiamana cara berpikir menjadi bagian bagaimana pelaku menjadi terkendali dan melakukan aksi bejat nya.

Laki-laki maupun perempuan sama-sama bisa memiliki dorongan seksual. Dorongan seksual memang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, selain faktor hormon juga ada beberapa faktor seperti rangsangan seksual yang diterima, pengalaman seksual sebelumnya dan faktor lainnya. Tidak bisa disalahkan jika laki-laki melakukan kekerasan seksual.  Dorongan seksual tidak layak untuk dijadikan sebagai hal pemakluman atas kekerasan seksual yang dilakukannya. Hal ini perlu dipastikan dalam aktivitas seksual yang dilakukan, apapun itu tidak berlandaskan paksaan, tekanan maupun kekerasan.

Korban kekerasan, jangan dibiarkan berjuang sendirian. Akibat dampak kejadian kasus tersebut banyak korban yang bungkam dan tidak berani untuk memberitahu dan menceritakan kondisinya. Karena korban takut, malu, masalah nantinya bisa menjadi panjang, dan bahkan tidak bisa tertatasi. Yang ada akan membuat namanya menjadi aib yang bisa diketahui banyak orang dan ramai untuk menjadikan isu disekitarnya. Selain trauma korban pastinya akan merasakan gangguan dan kondisi mental yang tidak stabil. Adanya proses luka batin yang sulit bahkan tidak bisa untuk dihilangkan. Butuh penanganan ahli untuk korban bisa benar-benar pulih dari trauma dan nya. Kondisi mencengakam ini sudah banyak terjadi di berbagai kota di Indonesia. Dan Jakarta menjadi urutan ke-lima dengan tingkat kota yang tidak aman dan rawan akan kasus pelecehan.

Mari kita lihat, beberapa kasus yang terjadi. Khususnya dalam modus pelecehan seksual. Menjadi perempuan dengan tubuh curvy. Saat-saat memasuki awal perkuliahan, karena kesulitan memilih dan menyesuaikan pakaian untuk sehari-hari. Sering di cap berisi dan pandangan sering banyak tertuju pada objek visual sensitif. Ada beberapa laki-laki yang menjadikan hal tersebut sebagai objek candaan bahkan pelecehan. Padahal hal tersebut sangat menganggu dan membuat risih bagi korban. Tidak hanya itu, kejadian beberapa tahun lalu. Tepatnya saat masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Guru olaharga saat itu sangat senang jika dekat dengan korban, dan bahkan pernah beberapa kali mencium hingga memeluk tubuh sembari dengan bisikan maupun perkataan yang lembut, mengatakan berulang kali dengan memuji korban sebutan cantik. Teman-teman sekelas ada yang memusuhi bahkan menjauhkan. Padahal atas kejadian itu korban benar-benar terpukul, sedih dan sangat tidak terima diri diperlakukan seperti itu. Akibat kejadian itu korban berpikir bentuk dari seorang tenaga pendidik yang sayang pada muridnya. Namun seiring berjalan waktu,dugaan itu salah. Bentuk kekerasan seksual bisa terjadi dimana saja dan pada siapa saja.

Maraknya kasus kejahatan seksual ini tidak hanya secara offline, online pun dalam dunia digital khususnya media sosial lebih banyak dan memakan banyak korban. Salah satu kasus pelaku yang menyamar sebagai mahasisiwi kedokteran meminta korban untuk mengirimkan gambar dari dirinya yang tidak memakasi busana. Berkedok dengan menyamar sebagai mahasiswi kedokteran untuk melakukan penilitian angkat riset perbandingan analisis gizi dan warna kulit wanita yang belum melahirkan. Dengan modal sosial media, mempergunakan akun dan foto profil orang lain. Pelaku meminta korban dengan alasan untuk dijadikan sampling risetnya. Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan korban insial 'D' ini bisa terselamatkan karena salah satu temannya yang memberi tahu akan maraknya modus penyamaran dengan meminta bantuan untuk kasus penelitian.

Tak bisa dipungkiri, kasus tersebut bukan hanya satu ataupun dua korban. Hingga saat ini kasus penyamaran dengan meminta bantuan pada dunia sosial media sudah banyak terjadi dan beredar. Sebagai langkah awal peran pemuda bagi bangsa Indonesia sangat berpengaruh besar untuk bisa berubah dan maju bagi bangsa ini. Sudah sepatutnya muda-mudi Indonesia untuk bisa menjadi pintu perubahan yang baik. Bahu membahu memperbaiki negeri untuk mendobrak langkah awal perubahan. Langkah awal untuk membuka dan memulai perubahan bisa dari diri sendiri yang menjadi baik untuk pribadi maupun sekitar.


2045, genap Indonesia berusia 100 tahun. Dengan itu sebagai generasi muda sekarang untuk memperbaiki dan mewujudkan Indonesia lebih baik, lewat visi pemerintah dalam memandang kesejahteraan bangsa Indonesia. Tepatnya Dengan mengarahkan masyarakat tentang pentingnya kualitas suatu Bangsa Indonesia dapat berubah menjadi lebih baik dalam bidang pendidikan, baik menyangkut tenaga pengajar, sarana prasarana pendidikan, maupun kesejahteraan. Presiden Soekarno pernah berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangankan dunia.” Pondasi dan kehadiran pemuda begitu penting bagi Presiden Soekarno.


Sikap generasi muda memiliki ciri-ciri seperti lebih tertarik pada isu-isu permasalahan terkini di Indonesia. Berita-berita hangat menjadi topik pembahasan yang banyak untuk dibicarakan. Kemajuan arah bertingkat begitu penting dalam membangun sumber daya pemberdayaan generasi muda. Ikut adil dalam suatu peran dan berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia, sehingga melahirkan generasi-generasi muda selanjutnya yang gemilang.

Namun, degenarasi moral yang dialami Bangsa Indonesia sudah banyak menyerang para pemuda. Berbagai krisis dan persoalan menjadi latar belakang permasalahan yang memicu banyak terjadinya pemerosotan dalam segi aspek di Indonesia, khsusus nya bagi para pemuda. Moralitas merupakan hal utama yang harus tertanam dalam setiap individu. Penyimpangan-penyimpangan moral banyak memberikan dampak buruk seperti kerusakan yang berakibat rusaknya norma-norma.

Kondisi ini yang meyakinkan bahwa wujud nyata penggerak perubahan semua ada di tangan pemuda. Negara yang berkualitas merupakan wujud keberhasian dari suatu bangsa. Kehadiran pemuda harus menjadi tonggak dasar untuk memimpin Negeri. Melalui modal sikap intelektual, keberanian, kepercayaan diri, teladan, jujur, disiplin dan cinta tanah air. Sikap untuk menyongsong Indonesia dalam wujud gemilang di tahun-tahun berikutnya dengan kehadiran cermin bagi penerus bangsa.

Artinya, bagaimana cerminan itu bisa dilihat dari penguasa-penguasa terlebih dahulu. Penguasa-penguasa memberikan cerminan baik kepada masyarakat luas, orang tua memberikan dampak dan pengaruh untuk anak-anaknya, tenaga pendidik memeberikan manfaat dan teladan kepada peserta didiknya, dan diri kita sendiri menjadi contoh wujud baik inspirasi dalam sekitar. Semua hal didasari dari lahirnya negara emas adalah bentuk dari keberhasilan optimisme penduduknya.

Pendidikan moral dan karakter merupakan sebuah solusi untuk memberikan dan memperbaiki persoalan moral. Oleh karena itu perlu melakukan antisipasi agar tidak terjadinya hal-hal yang menyorotkan Indonesia tidak dipandang dengan baik. Langkah minimal bentuk perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang bisa memberikan dampak perubahan besar.

Indikator keberhasilan menuju Indonesia gemilang merupakan kualiatas dari sumber daya manusianya. Menuju penggerak modal bekal selain pendidikan dan moral perlu adanya benahan diri yang menjadi tolak ukur dalam segi pengaruh lingkungan, seperti dalam hal penggunaan sosial media. Sosial media merupakan hidup kedua bagi individu dalam ranah lingkungan dan kehidupan yang tidak bisa lepas dari penggunanya di era sekarang. Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sosial media menjadi bagian hidup seseorang guna melangsungkan kehidupannya. Mulai dari, pekerjaan, kuliah, sekolah dan hal-hal lainnya bisa ditemukan di sosial media. Namun, banyak dari jumlah pengguna yang memanfaatkan keberadaan sosial media di atas ambang toleransi. Karena pengaruh dampaknya memberikan faktor dan kondisi buruk untuk diri sendiri maupun sekitar. Lewat generasi muda sebagai aset perubahan pemimpin selanjutnya, perlu membentengi diri dan menjadikan bagian sosial media sebagai pengaruh yang baik. Batasi penggunaan sosial media dan bijak dalam menggunakannya.

Kebanyakan sekarang anak-anak muda mempunyai akun seperti instagram, twitter dan jejaring sosial lainnya hanya mencari eksistensi dan kesenangan belaka. Sosial media seperti candu yang mengantarkan individu untuk terus terpengaruh. Seperti adanya pertemuan-pertemuan masih sering untuk memainkan smarthphone. Hanya scroll-scroll yang tidak bermanfaat, padahal, hal tersebut merupakan sikap yang kurang sopan jika sedang bertemu dengan orang. Lewat permasalahan tersebut, sebagai generasi emas kita bisa memanfaatkan penggunaan sosial media dengan baik dan bijak. Mulai dari mencari informasi terkini, isu-isu yang beredar di Indonesia, mengembangkan skill yang dimiliki dan mencari wawasan maupun jaringan yang baik. Jangan sampai terlalu bergantung pada dunia digital yang sebenarnya hanya tipuan untuk terus menjadikan diri terpengaruh dan budak dalam sosial media dan menjadi momok menakutkan bagi diri akibat tidak bijak dalam pengunaannya. Jika masyarakat Indonesia mengurangi sosial media dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kehidupan yang baik maka kata “mager” tidak ada bagi generasi Indonesia yang baik. Serta kecanduan dam radiasi smartphone berkurang. Batasi sosial media dan perbanyak membaca.

Kemudian dalam segi kesehatan. Mungkin banyak dari kita yang masih menganggap kebiasaan maupun keseharian ditentukan oleh diri kita sendiri. Kebiasaan dan keseharian yang baik akan menghasilkan diri yang baik begitu pun pola sebaliknya. Penyebab kematian tertinggi di 2014 adalah jantung, stroke dan diabetes. Artinya penanganan-penanganan kecil bisa kita upayakan mulai dari diri sendiri kemudian evaluasi dan meyebarkan pentingnya kesehatan. Seperti, mengatur pola baik makanan dan asupan apa saja yang masuk. Karena sebagian masyarakat Indonesia masih banyak sekali menjual makanan yang tidak layak dan kotor, artinya penting sekali makanan apa saja yang masuk kedalam tubuh kita. Selain itu kurangi makanan pengawet dan instan karena makanan tersebut sangat berdampak buruk bagi kesehatan dimasa kedepan. Saran untuk para kaum muda untuk membiaskan pola makanan sehat, buah, sayur, protein dan asupan bergizi seimbang yang membantu tumbuh dengan baik. Gaya hidup yang dapat diterapkan seperti menjadi seorang vegan. Seperti penggunaan gaya hidup sehat tanpa ada campur asupan hewani dapat menjadikan tubuh lebih sehat dan bugar selain itu, populasi eksploitasi hewan di Indonesia habitatnya tetap terjaga. Selain itu olahraga menjadi alasan penting untuk kaum muda untuk dapat pembekalan yang seimbang. Meluangkan waktu dengan berolahraga dapat memberikan dampak positif untuk diri sendiri. Generasi muda perlu memikirkan asupan sehat dan baik guna menyongsong generasi-generasi selanjutnya.

Selain moral dan kualitas intelektual. Pendidikan merupakan aset penting guna menyongsong Indonesia emas di tahun 2045. Hal yang paling mendasar adalah, dengan berkontribusi dan terus haus akan ilmu, generasi muda dapat menjadi terpelajar, berwawasan dan menciptakan bibit-bibit unggul dikemudian hari. Dengan memperluas kontribusi maupun kebermanfaatan seperti merajut asa dalam menemui-menemui tempat maupun daerah kecil yang butuh pendidikan dan disana banyak anak-anak yang diharuskan layak mendapatkan pengetahuan serta kehidupan yang baik. Mungkin banyak dari kita tahu lulusan sarjana dengan gelar banyak pun tak menjamin seseorang menjadi orang baik. Karena banyak gelar, menciptakan industri, teknologi maupun jabatan tinggi masih banyak orang- orang tinggi lainnya bersikap tidak adil bagi Indonesia. Rakyat-rakyat kecil kesusahan para petinggi selalu di indahkan. Bukan nya segalanya berhak mendapatkan? “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Artinya pemberlakuan adil untuk seluruh rakyat di Indonesia bagi siapa saja. Banyak dari kita tahu pendidikan yang tinggi tak menjamin seseorang untuk menjadi manusia yang manusia. Perlu saya garis bawahi bahwa pendidikan penting adalah sikap dan agama. “Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.” – Albert Einstein

Dengan keyakinan menjadi gerakan baik di dalam suatu bangsa guna menyongsong penduduk yang berkualitas, maka perlu tergerak dalam kontribusi yang berpengaruh baik untuk sekitar maupun diri sendiri di kemudian hari bagi Indonesia. Salah satunya latar belakang dari pengaruh diri sendiri yang menjadi dasar penting untuk berlangsungnya kualitas negeri dengan menjadikan diri sendiri dalam luang, pengalaman serta modal yang selalu dinilai baik guna memberikan kebermanfaatan dan inspirasi. Melewati segi kebaikan, generasi muda bisa mencetak kebiasan-kebiasa. baik dengan meluangkan waktu yang bermanfaat sehingga tidak ada pemikiran-pemikiran yang kotor. Melalui passion, kesenangan atau hobi misalnya para muda-mudi Indonesia bisa meluangkan waktu dengan mencari sebanyak-banyak ilmu, maupun jaringan untuk membangun kualitas baik bagi lingkungan dan dirinya. Sehingga, hal tersebut mampu menggambarkan niat baik akan kasus-kasus angka kriminalitas seperti maraknya pelecehan. Dengan bermodal ilmu maupun jaringan para generasi muda sama-sama semisalnya menyeberkan edukasi, memperluas informasi serta menunjang keberhasilan maupun membentuk komunitas mengenai penyimpangan yang sering terjadi. Lewat keberhasilan-keberhasilan yang memiliki nilai baik, seseorang akan menjadi pengaruh baik untuk sekitar. Sehingga tercipta generasi yang berkualitas di dalam negeri yang gemilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Galaba Si Kenes Pohon Beringin

Terbayar

Aksama